People Innovation Excellence

Refleksi Pemahaman Komunitas Virtual dalam Pandangan Rheingold

Oleh: Robertus Tang Herman, SE, MM (Faculty Member of International Marketing)

Popularitas media sosial sebagai media interaksi virtual semakin berkembang dalam relasi kehidupan individu dan sosial masyarakat modern saat ini. Keberadaannya memberi kebebasan bagi siapapun untuk berekspresi sekaligus menunjukan identitasnya lewat setiap tautan ataupun bentuk simbol lainnya yang lazimnya terjadi dalam interaksi sosial media. Wujud pesona fisik tidak lagi menjadi penting dalam kehadiran virtual seperti itu. Inilah ruang tanpa batas yang meniadakan batasan geografis maupun demografis, tak perlu ada perjumpaan fisik atau bercengkerama sambil “ngerumpi”  dan menikmati segelas kopi.

Femonema kebangkitan media sosial merupakan realitas yang sulit dihindari dan tak terbantahkan. Sesungguhnya kehidupan masyarakat modern tengah dihadapkan pada sebuah peradaban baru dalam gelombang perubahan teknologi digital. Beragam media sosial yang kini populer di kalangan masyarakat kita adalah sebagian dari inovasi teknologi komunikasi yang tak pernah lepas dari perkembangan teknologi internet sebagai mesin utamanya. Pertemuan virtual telah menjadi mekanisme baru dalam berinteraksi dimana hal itu memicu lahirnya berbagai komunitas virtual yang mengedepankan pluralitas, kebebasan dan cakupan geografis tanpa batas. Siapapun dapat menjadi bagian dari sebuah komunitas (virtual) selama  komunitas yang ada memberikan kenyamanan bagi seseorang.

Komunitas virtual (virtual community) merupakan kesatuan sosial yang muncul dari jaringan sosial ketika sejumlah orang berdiskusi dalam waktu yang cukup lama, dengan perasaan yang cukup untuk hubungan personal di dunia maya (Rheingold, 1993). Rheinghold sendiri merupakan pelopor yang memperkenalkan konsep virtual community yang belakangan menjadi salah satu topik yang banyak didiskusikan atau diperdebatkan oleh para cendikiawan ilmu atau pemerhati media dan teknologi komunikasi. Defenisi lain dari komunitas virtual menurut dictionary.com adalah sekelompok orang yang melakukan interaksi menggunakan media internet, ruang ngobrol (chat room), newsgroup, email dan juga forum diskusi (discussion board).

Dalam pemahaman penulis dengan mengacu pada definisi di atas, sangat jelas bahwa komunitas virtual berkenan dengan tiga hal pokok: Pertama, Aktor, yakni individu itu sendiri sebagai subyek yang secara personal maupun komunal melakukan kegiatan interaksi. Kedua, teknologi internet dan platform yang digunakan dalam interaksi, dalam hal ini adalah sosial media sebagai platform yang paling banyak digunakan. Ketiga, berkaitan dengan konten, yakni pesan dan informasi yang disampaikan untuk mencapai tujuan atau kepentingan individu dan group komunitas. Terintegrasinya ketiga elemen  tersebut mendorong terjadinya pergerakan personal (self-mobile dan self-organizing) hingga  terjadinya relasi di ruang virtual.

Relasi yang terjadi dalam komunitas virtual jauh lebih kuat dibandingkan dalam dunia riil. Relasi yang kuat dalam ruang virtual mendorong tingginya ketergantungan seseorang dalam menggunakan media sosial, apalagi hal tersebut didukung oleh kehadiran ponsel cerdas yang dapat mengakses berbagai media sosial kapan dan dimanapun. Istilah keintiman virtual (virtual intimacy) hendak menggambarkan pola hubungan yang kuat di kalangan anggota komunitas, sehingga tidaklah heran jika keintiman yang terjadi dalam ruang virtual dapat berlanjut ke dunia riil. Namun demikian, ketergantungan yang tinggi terhadap komunitas dalam relasi virtual juga memberi dampak lain.

Ketika dunia virtual menjadi bagian yang tak terpisahkan, maka terjadi pergeseran atau perubahan dalam perilaku yang lebih berorientasi virtual seperti ketergantungan tinggi terhadap penggunaan internet, antusiasme yang tinggi dalam membawa realitas riil ke dalam forum diskusi serta mulai mengabaikan lingkungan sekitar hanya karena “asyik” bercengkerama dengan teknologi komunikasi dan berselancar di berbagai media sosial yang ada. Inilah tantangan sekaligus jawaban dari sebuah inovasi teknologi dan dinamika perilaku masyarakat atas kehadiran teknologi itu sendiri.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close