People Innovation Excellence

PENGENALAN SCOR MODEL 10.0 UNTUK PENELITIAN BISNIS

Oleh Haryadi Sarjono, S.T., M.M., M.E.

Contoh kasus di perusahaan Produksi Obat Herbal

(Bagian 03)

Pemetaan Rantai Pasok dengan SCOR Model Version 10.0

Supply Chain Operations Reference Model, SCOR Version 10.0 Overview menjelaskan pemetaan dilakukan untuk mendapatkan gambaran model yang jelas mengenai aliran material, aliran informasi, dan aliran keuangan dari suatu rantai pasok perusahaan. Tujuan dari proses permodelan ini adalah :

  1. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif terhadap rantai pasok.
  2. Memudahkan proses analisis kinerja rantai pasok.
  3. Memudahkan untuk mendapatkan gambaran rinci dari setiap rantai pasokan, sehingga proses penghubungan antar aktifitas lebih mudah.

Dalam menentukan rantai pasok, langkah-langkah utama yang harus dilakukan adalah:

  1. Menentukan sebuah rantai proses pemasokan produk, mulai dari pasokan bahan mentah (raw material) dan supplier, sampai pada realisasi pasokan produk jadi (finished goods) yang diterima pelanggan.
  2. Menggambarkan rangkaian aliran material dalam proses penciptaan nilai tambah produk.
  3. Menggambarkan rangkaian aliran informasi dalam proses rantai pasok.

Metrik Kinerja SCOR Level 1

Rantai pasok hasil produksi perusahaan (produk) akan diukur dengan metrik kinerja level 1, yaitu kinerja penyampaian produksi kepada pelanggan (toko/end-user). Menurut Bolstorff (2003: 41) menjelaskan bahwa analisis level satu dimulai dengan mendefinisikan tujuan bisnis perusahaan. Hal ini dilakukan agar evaluasi kinerja rantai pasok yang akan dilakukan sejalan dengan strategi perusahaan dan fokus pada tujuan utama yang ingin dicapai perusahaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian produksi, disebutkan bahwa tujuan bisnis perusahaan produksi ini didefinisikan sebagai berikut:

  1. Memberikan tingkat pelayanan yang terbaik.
  2. Meningkatkan keuntungan perusahaan.

Tujuan pertama dapat dicapai dengan menganalisis nilai dari tiga indikator di bawah ini :

  1. Delivery performance.
  2. Responsiveness to customer demand.
  3. Flexibility to demand changes.

Tujuan kedua dapat dicapai dengan menganalisis nilai dari dua indikator dibawah ini :

  1. Supply chain cost.
  2. Asset management efficiency.

Setelah mengetahui tujuan bisnis diatas, langkah selanjutnya mengukur metrik-metrik pada SCOR yang bersesuaian dengan tujuan bisnis tersebut. Metrik-metrik yang diberikan oleh SCOR dapat dilihat pada kolom data aktual pada Tabel dibawah ini. Untuk tujuan bisnis yang pertama, data yang tersedia adalah untuk metrik Perfect Order Fulfillment (POF) dan Order Fulfillment Cycle Time (OFCT). Sementara untuk tujuan kedua, data yang tersedia adalah untuk metrik Cost Of Goods Sold (COGS) dan Cash-To-Cash Cycle Time (CTCCT).

Setelah mendapatkan data aktual dan mengkalkulasi berdasarkan keempat metrik tersebut, langkah selanjutnya menentukan posisi aktual dan menetapkan kinerja target untuk masing-masing metrik berdasarkan data benchmark. Data benchmark diperoleh dari asumsi perusahaan. Data benchmark ini digunakan untuk menentukan kinerja target, memberikan gambaran mengenai besarnya gap antara kinerja perusahaan dengan kinerja perusahaan yang menjadi acuan dalam data benchmark dan tren kinerja dari tahun ke tahun, serta membantu dalam mengarahkan pengembangan rantai pasok.

Data benchmark terdiri dari 3 kategori, yaitu superior, advantage, dan parity. Data pada kategori superior diperoleh dari rata-rata nilai dari 10% perusahaan-perusahaan dengan nilai terbaik untuk-untuk masing metrik. Data pada kategori parity diperoleh dari rata-rata nilai perusahaan pada posisi median (rata-rata nilai tengah), sedangkan data pada kategori advantage merupakan rata-rata nilai tengah antara kategori superior dan parity. Konsep ini diberikan oleh Supply Chain Council dalam Bolstorff (2003: 55).

UntitledBerdasarkan tabel diatas terlihat bahwa untuk tujuan bisnis pertama yaitu memberikan tingkatan pelayanan yang terbaik, metrik POF data aktual maka perusahaan ini berada di antara parity dan advantage. Sedangkan metrik OFCT berada di antara advantage dan superior. Pihak perusahaan harus menetapkan kinerja target untuk POF dan OFCT pada posisi superior karena keduanya sejalan dengan tujuan bisnis yang utama yaitu memberikan tingkat pelayanan yang terbaik.

Metrik untuk tujuan bisnis kedua, meningkatkan keuntungan perusahaan, yaitu COGS pada data aktual perusahaan berada diantara parity dan advantage, sedangkan CTCCT pada data aktual perusahaan berada dibawah parity. Data aktual COGS dan CTCCT tidak dapat diperoleh dalam satu angka yang pasti, karena data bersifat rahasia. Dalam mengolah data COGS dan CTCCT , data tersebut diperoleh dari wawancara bagian produksi dengan memberikan asumsi pendekatan angka dengan data real. Dalam SCOR Model, tidak disarankan terdapat lebih dari satu tujuan bisnis dengan kinerja target pada posisi superior. Lingkup proyek pengembangan rantai pasok yang kompleks, menghendaki adanya pembatasan kinerja target pada posisi superior, agar usaha perbaikan yang dilakukan hanya pada satu tujuan bisnis. Oleh karena itu, kinerja target untuk COGS ditetapkan pada posisi advantage. Terakhir, kinerja target untuk CTCCT, yaitu pada posisi parity. Hal ini juga disebabkan aturan dalam SCOR yang tidak memungkinkan lebih dari satu target pada posisi advantage.

SCOR Model pemetaan Level 2

Pada pemetaan level 2 ini, setiap proses inti dalam SCOR akan ditampilkan lebih rinci dari proses-proses rantai pasok perusahaan. Ada tiga tipe proses SCOR, yaitu planning (perencanaan), excecution (pelaksanaan) dan enable (pengaturan antara perencanaan dan pelaksanaan).

UntitledUntitled

Hasil yang ingin dicapai dari analisis level 3 adalah mencari penyebab terjadinya masalah dalam proses source. Metode yang digunakan untuk menelusuri akar masalah dalam proses tersebut adalah metode fishbone analysis yang berbentuk diagram sebab akibat. Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian Produksi diperoleh diagram sebab akibat untuk proses source. Masalah utama yang teridentifikasi adalah lemahnya perencanaan dalam pengelolaan material, oleh karena itu berdasarkan dari masalah utama tersebut, ditemukan 4 penyebab lemahnya pengelolaan material tersebut. Dari keempat penyebab ini, dilakukan penyelidikan lebih mendalam sehingga nantinya akan diperoleh beberapa penyebab secara spesifik.


Published at :
Written By
Haryadi Sarjono, S.T., M.M., M.E.
SCC Management Science - SoBM | BINUS University
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close