People Innovation Excellence

Politik Organisasi, siapa takut ?

Ami Fitri Utami, SE.,MSM

“…dan selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan menguasai, orang berpolitik.”
– Pramoedya Ananta Toer (Rumah Kaca, 420)

Sepenggalan kalimat diatas menyiratkan pemikiran bahwa eksistensi politik tidak dapat dihindari, dimanapun kapanpun selagi hukum hirarki berlaku dalam suatu lingkungan sosial baik formal maupun non- formal. Argumen inipun didukung oleh beberapa penelitian terdahulu yang menunjukan bahwa politik merupakan hal yang natural ada dalam organisasi, bahwa setiap organisasi suka atau tidak suka pasti memiliki kandungan politik didalamnya (Marques, 2010).

Politik organisasi
Politik dalam organisasi seringkali dikaitkan dengan perilaku “menyelamatkan” kepentingan diri sendiri atau kelompok tertentu didalam organisasi (Ferris et al, 2002 ; Kacmar & Ferris ,1991). Disisi lain, Ferris (1996) melihat politik dalam organisasi sebagai suatu perilaku yang tidak diberi sanksi secara formal oleh organisasi, dan seringkali menghasilkan konflik dan ketidak-harmonisan dilingkukan kerja. Praktek politik dalam organisasi dapat dipicu oleh perbedaan pendapat antara anggota organisasi (Ferris et al, 2012). Maka dari itu, tidaklah mengejutkan jika dikatakan bahwa setiap organisasi pasti berpolitik karena suatu organisasi pasti terdiri lebih dari 1 individu dan setiap individu akan memiliki pemikiran yang berbeda beda.

Konsekuensi politik dalam organisasi
Tingkat kejenuhan politik dalam suatu organisasi seringkali diartikan negatif oleh banyak pihak. Menurut penelitian, aroma politik yang timbul dalam organisasi dapat merangsang tumbuhnya rasa ambigu atau kebingungan dari anggota organisasi. Kebingungan ini muncul karena anggota organisasi merasa ada bias antara hal mana yang akan direspon sebagai prestasi atau justru direspon sebagai kesalahan. Ke-ambiguan inilah yang bagi sebagian orang menimbulkan rasa ingin menarik diri dari organisasi. Inilah mengapa dikatakan bahwa politik organisasi bersifat destruktif dan dapat menurunkan keterlibatan anggota organisasi terhadap segala permasalahan dalam organisasinya.
Namun walau bagaimanapun, stigma tersebut mungkin saja muncul karena banyak pihak sudah terlanjur mengedepankan sisi negatif dari politik dalam organisasi daripada sisi positifnya. Terlebih lagi memang banyak penelitian yang menemukan bahwa persepsi anggota organisasi terhadap derajat politik didalam organisasinya dapat menghambat banyak hal, misalnya meningkatkan turnover, memancing sinisme, bahkan menurunkan performa bisnis.
Walaupun begitu, menurut Drory (2010), kita tidak bisa beranggapan bahwa politik dalam organisasi adalah sepenuhnya positif atau bahkan negatif seperti yang dibicarakan. Hal ini tentu disebabkan bukti pendukung dimana terdapat penelitian (Maslyn, 1998) yang menunjukan bahwa politik dalam organisasi justru bersifat positif pada organizational citizenship behavior yang merupakan suatu bentuk komitmen tertinggi dari anggota organisasi terhadap organisasinya.Hal ini membuktikan bahwa, pada dasarnya politik dalam organisasi tidak sepenuhnya bersifat destruktif, melainkan situasional dimana implikasinya tergantung pada sifat individu yang menghadapinya.

Berpolitik atau tidak berpolitik ?
Maka untuk turut serta berpolitik atau tidak berpolitik dalam organisasi merupakan suatu pilihan. Lagi-lagi, ada saja anggota organisasi yang bersifat avoiding terhadap praktek politik didalam organisasinya, menganggap bahwa politik luar biasa kotor untuk diikuti. Namun tentu hal ini mengurangi tingkat keterlibatan mereka terhadap permasalahan yang timbul dalam organisasi tersebut, terlebih lagi orang orang seperti inipun tentu harus waspada karena pasti mereka disalip habis oleh para corporate shark (karakteristik seseorang yang sangat lihai berpolitik, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan maksud dan tujuannya).

Maka, yang perlu diperhatikan bukanlah bagaimana menghilangkan tingkat politik didalam suatu organisasi , atau terus mengeluh bahwa berpolitik itu buruk, melainkan lebih berfokus pada bagaimana menekan sifat destruktif dari praktek politik tersebut.

Seperti diketahui bahwa permasalahan pada praktek politik adalah munculnya ambiguitas dalam praktek organisasi, dan juga munculnya prasangka buruk sesama rekan kerja, maka dari itu yang perlu dibenahi adalah lingkungan organisasinya . Pembentukan lingkungan organisasi yang lebih transparan dapat menekan rasa ambigu tersebut, terlebih lagi jika memang ada sistem yang jelas dalam seluruh aspek sensitif dalam organisasi seperti penilaian kinerja dan promosi. Hal dapat menekan persepsi anggota organisasi bahwa terjadinya promosi tersebut disebabkan oleh praktek politik.

Disisi lain, tidaklah salah untuk memperhatikan karakteristik individu dalam proses perekrutan. Ditemukan bahwa seseorang yang intelijensi emosional nya tinggi dapat lebih baik dalam mengatur perasaannya dalam merespon stress, dalam hal ini stress merupakan salah satu aspek yang ditimbulkan oleh praktek politik dalam organisasi. Maka dapat dikatakan bahwa individu yang memiliki intelijensi emosional yang tinggi dapat lebih baik dalam merespon praktek politik dalam organisasinya. Mengapa? Hal ini disebabkan oleh kemampuan individu tersebut dalam mengatur perasaan dan prasangkanya. Individu dengan Intelijensi emosional yang tinggi dapat lebih bijak dalam melihat sesuatu, bahkan dalam hal ini mereka bisa menilai suatu kejadian dengan konteks yang lebih luas yang pada akhirnya dapat meningkatkan keterlibatan mereka dalam organisasi.

Maka walaupun praktek politik dalam organisasi tidak bisa dihindari, masih terdapat cara untuk menekan efek negatifnya bahkan merubahnya menjadi positif bagi organisasi. Selain itu, mulailah menyadari bahwa berpolitik dalam organisasi tidaklah buruk asalkan memang masih dalam batas yang sehat. Sehat dalam hal ini adalah, praktek politik yang dilakukan dalam organisasi tentu masih mengedepankan nilai organisasi, dan tidak melewati batas moral.

Referensi :

Drory, Amos., Vigoda-Gadot, (2010), “Organizational politics and human resource management: a typology and the Israeli experience”. Human Resource Management Review

Ferris, G.R., Adams, G., Kolodinsky, R.W., Hochwarter, W.A. and Ammeter, A.P, (2002),”Perceptions of organizational politics: theory and research directions” , in Yammarino, F.J. and Dansereau, F. (Eds), The Many Facesof Multi-level Issues, JAI Press, Amsterdam, pp. 179- 254.

Kacmar,K.M.,&Ferris,G.R.(1991), “Perceptions of Organizational Politics Scale (POPs): Development and construct validation”. Educational and Psychological Measurement,51,193-205

Marques, J. F. (2010),” Spiritually or politically driven behavior: Differences in the workplace”.
Development And Learning In Organisations, 24(6), 12–16.

Maslyn, M.J., Fedor, B.D. (1998), “Perception of politics: Does Measuring Different  Foci Matter?, Journal of Applied Psychology


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close