People Innovation Excellence

Mau Pilih mana, perilaku Otak Reptil atau Neocortex? (Part 2)

Oleh: Son Wandrial, SE, MM (Faculty Member of International Marketing)

(Sambungan dari Mau Pilih mana, perilaku Otak Reptil atau Neocortex? (Part 1))

Kalau Anda pernah belajar Neuro Semantic atau NLP, Anda akan paham bahwa Prof. Peters telah mengalami yang namanya Cognitive Distortion Jump into Conclusion biasa disingkat dengan Cognitive Distortion.   Dengan kata lain profesor Peters telah mengijinkan otak reptil membajak neocortex, nah akhirnya perilaku binatang yang menguasai dirinya.

Gak usah heran jika kasus-kasus “pembajakan”  intelektual seperti ini lazim terjadi di negara kita, contohnya: para tersangka kasus suap dan  korupsi yang ditahan KPK beberapa diantaranya memiliki gelar sarjana seperti doktor dan professor dan itu baru sebagian kecil yang terungkap. Otak reptil mendominasi neocortex.  Ciri dari otak reptil adalah: egois, serakah, melanggar hukum dan halalkan segala cara untuk mencapai tujuan.   Saya teringat ucapan dari seorang tokoh masyarakat yang ngomong begini: “SD 6 tahun… SMP 3 tahun… SMA 3 tahun… Kuliah 5 tahun, tapi buang sampah masih sembarangan, emangnya di sekolah diajarin apaan aja sih”.   Nah itu dia, terbukti bahwa jenjang pendidikan yang tinggi pun tidak bisa menjamin seseorang untuk terhindar dari jajahan otak reptil.

Masih ingat kasus Enron yang memanipulasi laporan keuangan untuk menaikan harga sahamnya?  Saya anjurkan Anda untuk nonton film The Big Short, menceritakan kronologi krisis keuangan di AS tahun 2008 yang akhirnya menjadi krisis global, intinya semua itu dipicu dari keserakahan, tamak dan menghalalkan segala cara (dominasi otak reptil).

Memahami perilaku otak reptil dengan baik akan membantu memahami perilaku manusia.  Contohnya dalam ilmu marketing para pemasar dan perusahaan telah memahami ciri otak reptil ini jauh sebelum bapak pemasaran modern Philip Kotler lahir di tahun 1931 dan menulis buku Marketing (1965), mereka sangat paham bahwa Otak Reptil SELALU Menang.

Salah satu kasus penjualan produk yang fenomenal terjadi di tahun 1920 -10 tahun sebelum Philip Kotler lahir- dimana dalam promosinya sudah menerapkan bagaimana agar otak reptil konsumen berada dalam kondisi “fight or flight” (waspada), konsep ini akhirnya dikenal juga dengan “using fear to sell product” sehingga produknya sangat laku dipasaran dan menciptakan pemasukan yang besar. Konsep ini sampai sekarang masih diterapkan di banyak perusahaan.  Begitu hebatnya pengaruh otak reptil dalam perilaku pembelian.

Bersambung ke:

Mau Pilih mana, perilaku Otak Reptil atau Neocortex? (Part 3)


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close